Menonton dengan Hati bersama Andi Noya
Berawal dari kekecewaan mengikuti bursa kerja minggu lalu, saya menemukan buku ini pada sebuah rak yang bertuliskan “Buku Laris” di salah satu toko buku Gramedia di Surabaya. Buku bersampul putih dengan foto Andi Noya, si “empunya” buku, yang cukup mendominasi membuat saya tertarik untuk menjamahnya. Apalagi dengan cap merah dengan tulisan emas “best seller” di salah satu pojok buku cukup menggoda saya. Ya buku ini adalah buku tentang acara talk show yang ditayangkan oleh Metro TV. “Kick Andy”, tidak ada orang yang tidak tahu tentang acara tersebut. Walaupun tidak pernah melihat paling tidak pernah mendengar karena acara tersebut cukup terkenal.
Apa iya buku ini bagus ? Beli atau engga ya ? Pertanyaan – pertanyaan itu cukup lama berputar di kepala saya. Jujur saya bukan penyuka acara yang dipandu oleh wartawan berambut kribo tersebut. Sebenarnya Andy Noya telah mengeluarkan 2 buku tentang “Kick Andy”. Buku Kedua yang berwarna hijau dengan background rerumputan yang menyegarkan berharga cukup mahal. Yah mungkin karena kesuksesan buku pertama, buku kedua digarap lebih serius. Ini terbukti dengan book cover yang lebih tebal dan yang tentu saja berimbas pada harga. Dengan pertimbangan budget yang ada akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku pertama.
Seperti judulnya buku ini memang berisi tentang rangkuman-rangkuman episode yang menarik dan cukup mengundang pro dan kontra. Selain itu juga asal usul lahirnya acara tersebut sebagai bentuk kerinduan Surya Paloh, direktur Metro TV, pada acara TV yang bermutu yang jarang sekali ada di Indonesia. Tak bisa dipungkiri Indonesia dipenuhi oleh sinetron-sinetron yang diproduksi hingga beratus-ratus episode. Sinetron itu sendiri hanya menawarkan kekerasan, intrik-intrik yang tentu saja tidak mendidik. Selain sinetron ada juga talk show yang berbau sex yang cukup vulgar. Acara seperti ini yang mempunyai rating cukup tinggi yang tentu saja menjadi pilihan utama para produser untuk menggemukkan lagi episodenya.
Rating adalah sesuatu yang didewakan oleh insan perfilman. Dan acara yang memegang rating tertinggi adalah ya sinetro- sinteron itu tadi. Kadang gemas juga kenapa ya kok tidak ada serial TV yang cukup bermutu. Terus terang saya penggemar serial TV luar seperti Prison Break atau Heroes. Karena menurut saya walaupun sama “mbulet”nya dengan sinteron Indonesia, tapi mereka lebih menawarkan cerita yang variatif dan menarik. Kembali lagi ke topik awal, keadaan seperti inilah yang mendorong terciptanya acara Kick Andy.
Kick Andy selalu mengangkat masalah yang terjadi di masa lampau. Masalah yang telah banyak dilupakan oleh orang-orang. Penonton menjadi tersentak, setelah melihat Kick Andy tentunya, seolah – olah terbangun dari tidur panjang setelah bermimpi indah. Andi Noya mengajak kita untuk melihat lagi lebih dalam, berbicara dengan sumbernya langsung, dan mengetahui dari bibir mereka sendiri tentang perasaan mereka berkaitan dengan suatu kejadian. Itulah mengapa buku ini berjudul “Kick Andy : Menonton dengan Hati, Kumpulan Kisah Inspiratif”. Andy mengajak kita untuk melihat dengan hati tentang kejadian masa lampau. Melihat lebih dalam, seolah-olah tidak membiarkan kita untuk berpikir negatif dan mencoba melihat dari sudut pandang si nara sumber.
Salah satunya adalah ketika Kick Andy mengangkat cerita Si Hercules. Raja Preman yang ditakuti di seluruh Tanah Abang di Jakarta. Hercules diceritakan sebagai orang yang keras, berani dan emosional. Pria yang kecil kurus dan berambut ikal tersebut hanya tangan kirinya yang berfungsi dengan baik. Tangan kanannya hanya sampai siku, sisanya hanya menggunakan tangan palsu. Mata kanannya pun berupa mata buatan. Setiap kali mendengar nama Hercules yang terbayang hanyalah kengerian. Namun di sisi lain dia adalah seorang pahlawan. Sejak Hercules menjadi “raja” di Tanah Abang, aksi palak, jambret, maupun copet malah berkurang. Bahkan dia adalah orang pertama yang tergerak ketika ada musibah terjadi di sekitarnya. Dia adalah orang yang menyumbang berton-ton beras untuk korban kebakaran dan tsunami pada tahun 2004 lalu.
Hercules hanyalah satu diantara banyak kisah yang dirangkum dalam buku ini. Kisah – kisah menarik yang perlu “dilihat dengan hati”. Apalagi bagi pembaca yang belum pernah menonton Kick Andy. Secara keseluruhan buku ini apik. Buku ini membawa pembaca untuk mengenal lebih dekat dengan Andy Noya dan Kick Andy. Ada pepatah berkata “tak kenal maka tak sayang”. Melalui buku ini dapat membuat pembaca untuk mengenal dan menyayangi acara tersebut.

Tinggalkan Balasan